Kesabaran
Karya Chairil Anwar
Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu
Aku hendak bicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli
Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi
Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba
analisis
Struktur Bathin
a. Tema
Herman J. Waluyo (1987:106) mengatakan “Tema merupakan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair”. Ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa tema merupakan sebuah atmosfer dari sebuah puisi, sebuah puisi pasti memiliki sebuah tema (umumnya satu) yang melingkupi keseluruhan puisi. Oleh sebab itu dalam menafsirkan tema dalam puisi, puisi tersebut harus ditafsirkan secara utuh.
Jumat, 24 Juni 2016
Mangut lele
MANGUT LELE
Bahan-bahan
500 gramlele
3 ikatdaun kemangi siangi
1 buahtomat ukuran sedang potong kotakBumbu-bumbu:
5 siungbawang putih
5 siungbawang merah
1 bungkusterasi (saya pakai abc)
1 ruasjahe
1 ruaslengkuas
secukupnyagula pasir
secukupnyagaram
jika sukapenyedap
3 buahcabe merah besar
3 bhcabe rawit (diuleg) kalo saya ditambah 7 cabai rawit yg utuh
(masukkan bersama tomat dan kemangi pd akhir memasak)
daun salam
daun serai geprek
daun jeruk
jeruk nipis
santan (saya pakai santan instan ukuran kecil)
Langkah
Baluri lele dg air jeruk nipis dan garam,
diamkan 30menit, lalu cuci bersih dan Goreng lele hingga kering sisihkan
Haluskan semua bumbu, kemudian tumis hingga harum.
Masukkan lele, tambahkan air dan tunggu sebentar hingga mendidih dan bumbu meresap
Masukkan santan, daun kemangi, tomat dan cabe rawit utuh.
Aduk sebentar matikan api. Mangut lele siap disantap bersama nasi hangat
Bahan-bahan
500 gramlele
3 ikatdaun kemangi siangi
1 buahtomat ukuran sedang potong kotakBumbu-bumbu:
5 siungbawang putih
5 siungbawang merah
1 bungkusterasi (saya pakai abc)
1 ruasjahe
1 ruaslengkuas
secukupnyagula pasir
secukupnyagaram
jika sukapenyedap
3 buahcabe merah besar
3 bhcabe rawit (diuleg) kalo saya ditambah 7 cabai rawit yg utuh
(masukkan bersama tomat dan kemangi pd akhir memasak)
daun salam
daun serai geprek
daun jeruk
jeruk nipis
santan (saya pakai santan instan ukuran kecil)
Langkah
Baluri lele dg air jeruk nipis dan garam,
diamkan 30menit, lalu cuci bersih dan Goreng lele hingga kering sisihkan
Haluskan semua bumbu, kemudian tumis hingga harum.
Masukkan lele, tambahkan air dan tunggu sebentar hingga mendidih dan bumbu meresap
Masukkan santan, daun kemangi, tomat dan cabe rawit utuh.
Aduk sebentar matikan api. Mangut lele siap disantap bersama nasi hangat
Prosa
Pengertian Prosa Lama
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum
mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat.
Prosa lama mempunyai bentuk-bentuk sebagai
berikut:
1) Hikayat, bentuk sastra lama yang berisi
cerita kehidupan para dewa, peri, pangeran atau putri kerajaan, serta raja-raja
yang mempunyai kehidupan luar biasa dan gaib.
2) Sejarah atau tiambo, salah satu bentuk
prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah yang pernah
terjadi.
3) Dongeng. bentuk sastra lama yang bercerita
tentang sesuatu kejadian yang luar biasa dan penuh khavalan, tentang dewa-dewa,
peri-peri, putri-putri cantik, dan sebagainya. Fungsi dongeng haruslah sebagai
penghibur. Oleh karena itu, dongeng disebut juga cerita pelipur lara.
Ciri-ciri Prosa Lama
1. Statis
Kalau kita baca Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Si Miskin, Hikayat Bangsawan, dan prosa lama yang lain, bentuknya selalu sama, pola-pola kalimatnya sama, malahan banyak kalimat dan ungkapan sama betul, tema ceritanya pun sama.
Kalau kita baca Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Si Miskin, Hikayat Bangsawan, dan prosa lama yang lain, bentuknya selalu sama, pola-pola kalimatnya sama, malahan banyak kalimat dan ungkapan sama betul, tema ceritanya pun sama.
2. Diferensiasi sedikit
Cerita lama pada umumnya merupakan ikatan unsur-unsur yang sama karena perhubungan beberapa unsur kuat sekali.
Cerita lama pada umumnya merupakan ikatan unsur-unsur yang sama karena perhubungan beberapa unsur kuat sekali.
3. Tradisional
Prosa lama memiliki pola-pola bentuk yang dijadikan transisi. Kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang sama terdapat dalam cerita-cerita yang berlainan, bahkan di dalam satu cerita juga sering diulang-ulang.
Prosa lama memiliki pola-pola bentuk yang dijadikan transisi. Kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang sama terdapat dalam cerita-cerita yang berlainan, bahkan di dalam satu cerita juga sering diulang-ulang.
4. Terbentuk oleh masyarakat dan hidup di
tengah-tengah masyarakat
Kebanyakan hasil sastra dalam kesusastraan lama tidak diketahui siapa pengarangnya. Kalau dicantumkan suatu nama, itu hanya nama penyadur dan bukan nama pengarang yang sebenarnya. Sebab cerita lama itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang diceritakan secara turun-temurun.
Kebanyakan hasil sastra dalam kesusastraan lama tidak diketahui siapa pengarangnya. Kalau dicantumkan suatu nama, itu hanya nama penyadur dan bukan nama pengarang yang sebenarnya. Sebab cerita lama itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang diceritakan secara turun-temurun.
Contoh Hikayat
PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG
Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit sebagai ternyata dari contoh yang di bawah ini:
Hatta maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun
besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada
suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu
sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyeberang, tiada dapat perahu itu.
Maka ditantinya 1) kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada
lalu perahu orang. Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan
istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya. Syahdan maka
akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada sangka
orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, "Apa upayaku hendak
menyeberang sungai ini?"
Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang
sana sungai itu. Maka kata orang itu, "Hai tuan hamba, seberangkan apalah
kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak
hamba tahu dalam dangkalnya." Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua
bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi
itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali
ini!"
Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam
sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang
tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, "Tuan hamba
seberangkan apalah 2) hamba kedua ini. Maka kata Bedawi itu, "Sebagaimana
3) hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka
boleh, karena air ini dalam."
Maka kata orang tua itu kepada istrinya,
"Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke
dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu,
"Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba
seberangkan." Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu.
Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu.
Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata 4) oleh si Bungkuk
air itu dalam. Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi
itu kepada perempuan itu, "Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan
mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga
tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit,
hamba jadikan istri hamba." Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan
itu.
Maka kata perempuan itu kepadanya,
"Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu."
Maka apabila sampailah ia ke seberang sungai itu,
maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah ia keduanya segala
perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang tua
bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu.
Kalakian maka heranlah orang tua itu. Setelah
sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya. Setelah dilihat oleh orang
tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-kata dalam
hatinya, "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku
mati."
Sabtu, 04 Juni 2016
Manusia Dan Cinta Kasih
MANUSIA DAN CINTA KASIH
A. PENGERTIAN CINTA KASIH
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga maqusia menyembah Tuhan dengan ichlas, mengikuti
Hikmah cinta adalah sangat besar. Hanya orang yang telah diberi kefahaman dan kecerdasan oleh Allah sajalah yang mampu merenungkannya. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah :
1. Sesungguhnya cinta itu adalah merupakan ujian yang berat dan pahit dalam kehidupan manusia, karena setiap cinta akan mengalami berbagai macam rintangan
2. Bahwa fenomena cinta yang telah melekat di dalam jiwa manusia merupakan pendorong dan pembangkit yang paling besar di dalam melestarikan kehidupan lingkungan.
3. Bahwa fenomena cinta merupakan faktor utama didalam kelanjutan hidup manusia, dalam kenal-mengenal antar mereka.
4. Fenomena cinta, jika dipeitiatikan merupakan pengikat yang paling kuat di dalam hubungan antar anggota keluarga, kerukunan bermasyarakat, mengasihi sesama mahluk hidup, menegakkan keamanan, ketentraman, dan keselamatan di segala penjuru bumi. Cinta merupakan benih dari segala kasih dan sayang, dan segala bentuk persahabatan, dimanapun adanya
B. Unsur- Unsur Cinta
- Pengasuhan
- Tanggung jawab
- Perhatian
- Pengenalan
C. 3 Unsur dalam segitiga Cinta

- Kadang-kadang ada yang keterikatannya sangat kuat, tetapi keintiman atau kemesraannya kurang. Cinta seperti itu mengandung kesetiaan yang amat kuat, kecemburuannya besaar, tetapi dirasakan oleh pasangannya sebagai dingin atau hambar, karena tidak ada kehangatan yang ditimbulkan kemesraan atau keintiman. misalnya cinta sahabat karib atau saudara kandung yang penuh dengan keakraban, tetapi tidak ada gejolak-gejolak mesra dan orang yang bersangkutan masih lebih setia kepada hal-hal lain pada partnernya.Cinta juga dapat diwarnai dengan kemesraan yang sangat menggejolak, tetapi unsur keintiman dan keterikatannya yang kurang. Cinta seperti itu dinamakan cinta yang pincang, karena garis-garis unsur cintanya tidak membuat segitiga sama sisi, seperti nyata pada gambar berikut:Lebih berat lagi bila salah satu unsur cinta itu tidak ada, sehingga tidak terbentuk segitiga yang demikian itu tidak sempurna, dan dapat disebut bukan cinta.
D Tingkatan Cinta
1. Cinta kepada Tuhan pemilik alam semesta ini, karena tanpa kekuasaanya, kita takkan ada di bumi ini. Dan cintailah pengikutnya yaitu nabi Muhammad saw. Dalam islam ada sebuah saran, yaitu cintailah nabimu, yaitu Muhammad saw. Karenanya ia kan membawa kebenaran kepada umatnya.
2. Cinta kepada kedua orang tua yang senantiasa menjaga kita dari sebelum lahir hingga saat ini. Perjuangan seorang ibu itu tiada tara dibanding apapun juga. Dia senantiasa menanggung kita selama 9 bulan dalam perutnya dan mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya kita di bumi ini.
3. Cinta terhadap teman maupun teman spesial dalam hidup kita.
E. CINTA MENURUT AJARAN AGAMA
Bentuk Cinta dan Ayat Al-Qur’an Tentang Cinta
Berbagai bentuk cinta:
1. Cinta kepada thagut: Syetan atau sesuatu yang disembah selain Tuhan.
2. Cinta berdasarkan hawa nafsu.
3. Cinta yang lebih mengutamakan kecintaan pada orang tua, anak, istri, perniagaan dan tempat tinggal.
Ayat-ayat Al-Qur’an tentang cinta:
1. Cinta Diri
Cinta Diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Al-Qur’an telah mengungkpkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri ini, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari diri dari segala sesuatu yang membahayakan kesalahan dirinya, melalui ucapan Nabi Muhammd SAW, bahwa seandainya beliau mengetahui hal-hl gaib, tentu beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan. (QS, Al-Adiyat, 100:8)
2. Cinta Kepada Sesama Manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Allah ketika member isyarat tentang kecintaan manusia pada dirinya sendiri, seperti yang tampak pada keluh kesahnya apabila ia tertimpa kesusahan dan usahanya yang terus menurus untuk memperoleh kebaikan serta kebakhilannya dalam memberikan sebagian karunia yang diperolehnya, setelah itu Allah langsung memberi pujian kepada orang-orang yang berusaha untuk tidak berlebih-lebihan dalam cintanya kepada diri sendiri dan melepaskan diri dari gejala-gejala itu.
3. Cinta Seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasama ntara suami dan istri. Ia merupakan factor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga:
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir. (QS, Ar-Rum, 30:21)
Dorongan seksual melakukan suatu fungsi penting, yaitu melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis. Lewat dorongan seksual terbentuk keluarga.
4. Cinta Kebapakan
Mengingat bahwa antara ayah dengan anak-anaknya tidak terjalin oleh iktan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan anak-ankanya, maka para ahli ilmu jiwa modern berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukanlah dorongan fisiologis seperti halnya dorongan keibuan, melaikan dorongan psikis.
Cinta kebapakan dalam Al-Qur’an diisyaratkan dalam kasih nabi Nuh as. Betapa cintanya ia kepada anaknya, tampak jelas ketika ia memanggilnya dengan penuh rasa cinta. Kasih sayang, dan belas kasihan, untuk naik ke perahu agar tidak tenggelam ditelan ombak:
“…Dan nuh memanggil anaknya – sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil – : “Hai…anakku, naiklah (kekapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama-sama orang-orang yang kafir”.(QS, Yusuf, 12:84)
5. Cinta Kepada Rasul
Cinta kepad rasul, yang ditulis Allah sebagai rahmh bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkt ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya.
F. KASIH SAYANG
1. Pengertian Kasih Sayang
Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S.Poerwardarminta adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduaanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
G. KEMESRAAN
Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yang akrab baik antara pria wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.
Kemesraan pada dasamya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam.
Filsuf Rusia, Salovjef dalam bukunya makna kasih mengatakan "jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dari cinta did. Ia mulai hidup untuk orang lain".
Yose Ortage Y Gasset dalam novelnya "On love" mengatakan "dikedalaman sanubarinya seorang pencinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek cintanya. Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya".
Selanjutnya Yose mengatakan, bahwa si pencinta tidaklah kehilangan pribadinya dalam aliran enersi cinta tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan dibebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintu bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri.
H. BELAS KASIHAN
Dalam surat Yohanes dijelaskan ada tiga mac am cinta. Cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua) dan saudara. dan kcliga cinta Amor/eros ialah cinta antara pria dan wanita. Beda antara cinta cros dan amor ini ialah cinta eros karena kodrati sebagai laki-laki dan perempuan, scdangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinanar, misalnya gadis normal yang cantik mcncintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.
Disamping itu masih ada cinta lagi yaitu cinta terhadap sesama. Cinta terhadap sesama merupakan perpaduan antara cinta agape dan cinta philia.
Cinta sesama ini diberikan istilah belas kasihan untuk membcdakan antara cinta kepada orang tua, pria-wanita, cinta kepada Tuhan.
Dalam cinta sesama ini dipergunakan istilah belas kasihan, karena cinta disini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaannya. Pcnderitaan ini mengandung arti yang luas. Mungkin tua, sakit-sakitan, yatim, yatim piatu, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya.
Jadi kata kasihan atau rahmah berarti bersimpati kepada nasib atau keadaan yang diderita orang lain. Kemudian apa bedanya Rahmah dengan Rahman ? kalau Rahman ada unsur memberi. Misalnya seseorang memusuhi kita, tetapi kita tidak membalasnya, malahan kita jadikan dia sebagai teman baik. Jadi pengertian rahmah adalah kita menaruh perhatian (simpati) terhadap penderitaan orang lain, lalu kita menunjukkan jalan keluar kepadanya. Tetapi kalau kita menaruh rasa simpati kepada orang yang tidak dalam kesulitan, sehingga menyebabkan rusak (menjerumuskan), maka hal itu disebut memanjakan.
I. CINTA KASIH EROTIS
Dalam cinta kasih erotis tcrdapat eksklusivitas yang tidak terdapat dalam cinta kasih pcrsaudaraan dan cinta kasih keibuan.
Cinta kasih erotis apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mcncintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya, dan menerima pribadi orang lain (wanita ataupun pria) dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya.
Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusatraan
Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusatraan
Pada Umumnya The Humanities mencangkup filsafat, teologi, seni, dan cabang-cabangnya termasuk sastra, sejarah, cerita rakyat dan sebagainya. Jadi Intinya the Humanities mempelajari semua masalah tentang manusia dan budaya.
Seni yang merupakan cabang dari the humanities merupakan sastra yang mempunyai peranan paling penting karena nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikannya normatif. Ekspresi seni sifatnya tidak normatif agar lebih mudah berkomunikasi dan agar nilai yang disampaikan lebih fleksibel. Sastra mempunyai peranan penting juga karena sastra mempergunakan bahasa. Cabang seni lain pada hakekatnya juga menggunakan bahasa, namun bahasa yang digunakan masih perlu dijabarkan dan ditafsirkan lagi. Sebaliknya sastra adalah penafsiran itu sendiri.
A. Pendekatan Kesusastraan
Hampir di setiap jaman seni termasuk sastra memegang peranan yang penting dalam the humanities. Ini terjadi karena seni merupakan ekspresi nilai-nilai kemanusiaan, dan bukannya formulasi nilai-nilai kemanusiaan seperti yang terdapat dalam filsafat atu agama.
Karena seni adalah ekspresi yang sifatnya tidak normative, seni lebih mudah berkomunikasi, karena tidak normatif nilai-nilai yang di sampaikan lebih fleksibal baik isinya maupun cara penyampainnya.
Orientasi the Humanities adalah ilmu : Dengan mempelajari satu sebagai dari disiplin ilmu yang mencakup dalam the humanities, mahasiswa di harapkan dapat menjadi homo humanus yang lebih baik.
B. Ilmu Budaya Dasar Yang Di Hubungkan Dengan Prosa
Istilah prosa banyak pandangannya. Kadang-kadang di sebut narrative fiction, prose fiction atu hanya fiction saja. Dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering di terjemahkan menjadi cerita rekaan dan di definisikan sebagai bentuk cerita tau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa dan alur yang si hasilkan oleh daya khayal atau imajinasi.
Dalam kesussatraan Indonesia kita mengenai jenis prosa lama dan prosa baru.
a. Prosa lama meliputi :
1. Dongeng-dongeng
2. Hikayat
3. Sejarah
4. Epos
5. Cerita pelipur lara
b. Prosa baru meliputi :
1. Cerits pendek
2. Roman/novel
3. Biografi
4. Kisah
5. Otobiografi
C. Nilai-Nilai Dalam Prosa Fiksi
Sebagai seni yang bertulang punggung cerita, mau tidak mau karya sastra (prosa fiksi) langsung atau tidak langsung membawakan moral, pesan atau cerita Dengan perkataan lain prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembawa lewat sastra. Adapun nilai-nilai yang di peroleh pembawa lewat sastra antara lain :
1. Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaan kesenangan yang di peroleh dari membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan pengalaman, pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal dareh atau tempat asing, pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh asing.
2. Prosa fiksi memberikan informasi
Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedia. Dalam novel sering kita dapat belajar sesuatu yang lebih daripada sejarah atau laporan jurnalistik tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa lampau, bahkan juga kehidupan yang akan dating atau kehidupan yang asing sama sekali.
3. Prosa fiksi memberikan warisan cultural
Prosa fiksi dapat menstimulasi imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa. Salah satunya adalah novel Siti Nurbaya.
4. Prosa memberikan keseimbangan wawasan
Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau ransangan aksi yang mungkin sangat berbeda daripada apa yang di sajikan dalam kehidupan sendiri.
Berkenaan dengan moral , karya satra dapat di bagi menjadi dua : Karya sastra yang menyurakan aspirasi jamannya, dan karya satra yang menyuarakan gejolak jamananya, ada juga yang tentunya menyuarakan kedua-duanya.
Kedua macam sastra itu selalu menyampaikan masalah. Masalah ini di sampaikan dengan jalan menyajikan interaksi tokoh-tokohnya.Kita kenal Mahabrata dan Ramayana, Mahabrta menceritakan kepahlawanan orang-orang pandawa yang pemberani.
Pokok bhasan manusia dan cinta kasih dapat di hungkan denga cinta kasih antara Maria dan Yusuf dalam buku layar terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana.
D. Ilmu Budaya Dasar Yang Dihubungkan Dengan Puisi
Pembahasan puisi dalam rangka pengjaran Ilmu Budaya Dasar tidak akan lepas di arahkan pada tradisi pendidikan dan pengajaran sastra dan apresiasinya yang murni. Puisi dapat di pakai sebagai media sekaligus sebagai sumber sesuai dengan tema-tema atau pokok bahasan yang terdapat di dalam Ilmu Budaya Dasar.
Puisi termasuk satra, sedangkan sastra bagian dari kesenian, dan kesenian cabang/unsur dari kebudayaan.
Kepuitisan, keartistikan atau keestetikan bahasa puisi disebabkan oleh kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan :
1. Figura bahasa (figutrative language ) seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori sehingga puisi menjadi segar hidup, menarik dan memberi kejelasan gambaran angan.
2. Kata-kata yang ambiqiuitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda banya tafsir
3. Kata-kata berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
4. Kata-kata yang konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan asosiasi-asosiasi tertentu.
5. Pengulangan yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang di lukiskan,sehingga lebih menggugah hati.
Dibalik kata-katanya yang padat,ekonomis dan suakr di cerna maknanya itu,puisi berisi potret kehidupan manusia.
Adapun alasan-alasan yang melandasi penyajian puisi pada perkuliahan Ilmu Budaya Dasar adalah sebagi berikut :
1. Hubungan puisi dengan pengalaman hidup manusia
Perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut “pengalaman perwakilan”. Pendekatan terhadap pengalaman perwakilan itu dapat di lakukan dengan suatu kemampuan yang di sebut “imaginative entry” yaitu kemampuan menghubungkan pengalaman hidup sendiri dengan pengalaman yang di tuangkan penyair dalam puisinya.
2. Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual.
Dengan membaca puisi mahasiswa dapat di ajak untuk dapat menjenguk hati/penyair manusia, baik orang lain maupun diri sendiri.
3. Puisi dan keinsyafan sosial
Secara imaginative puisi dapat menafsirkan situasi dasar manusia sosial yang bisa berupa :
- Penderitaan atas ketidakadilan
- Perjuangan untuk kekuasaan
- Konflik dengan sesame
- Pemberontakan terhadap hukum Tuhan
Cinta kasih itu kadang-kadang tidak berdiri sendiri,ia sering berpadu dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lain seperti penderitaan (kesepian,kesedihan,keputusan,dll).
Puisi merupakan sesuatu yang hidup dalam metafisis, suatu impian yang berkribadian sehingga sukar dihayati isinya, Walaupun demikian bila puisi dibaca dengan baik setidaknya akan membantu pembaca dalam menafsirkannya.
7 Tokoh Budayawan

1. KH. A. Mustofa Bisri atau akrab di panggil Gus Mus adalah seorang Kiai, Penyair, Pelukis, Budayawan, Cendekiawan Muslim atau…dan masih banyak lagi predikat yang disandangkan ke padanya. Sosok multikreatif yang cenderung bersahaja namun terus bergerak tak kenal lelah untuk melakukan berbagai kegiatan. Sebagai seorang ulama, Gus Mus telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan social dan politik para ulama, jauh dari sifat ambisius dan bahkan dikatakan beliau adalah kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. sebagai pelaku seni, bersastra merupakan aktivitas yang telah mendarah daging bagi beliau. “Bersastra itu kan kegiatan manusia paling tinggi, melibatkan rasio dan perasaan !” katanya.
KH. A. Mustofa Bisri lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Beliau lahir dari pasangan KH. Bisri bin H. Zaenal Mustofa dan Hj. Ma’rufah binti KH. Kholil Harun. Gus Mus adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ketujuh saudara Gus Mus yang lain adalah: KH. Kholil Bisri, KH. Adib Bisri, Hj. Faridah, Hj. Najihah, Nihayah, Labib dan Hj. Atikah. Bakat menulis diperoleh dari ayahnya. Ayah Gus Mus, KH. Bisri Mustofa adalah salah satu ulama terkenal pada waktu itu yang juga gemar menulis. Salah satu hasil karyanya yang hingga sekarang masih digemari oleh para pembaca ialah Kitab Tafsir Al Ibriz. Bakat menulis KH. Bisri Mustofa juga tampak dalam penerjemahan kitab-kitab klasik yang umumnya sulit dipahami oleh para santri, semisal: Fath al-Mu’in, Alfiyah Ibnu Malik, Al-Iktsir dan Al-Baiquniyah. Tetapi oleh beliau diterjemahkan ke dalam bahasa yang lugas dengan bahasa indah dan mudah dipahami.
KH. Bisri Mustofa juga sangat berpengaruh pada watak Gus Mus yang kreatif, bebas dan gemar membuat karya seni. Watak bebas namun bertanggung jawab memang diterapkan pada semua keluarga dan keluarga KH. Bisri Mustofa. Sebuah prinsip yang diajarkan Kyai Bisri Mustofa adalah semua boleh bebas asal tidak meninggalkan kewajiban pokok. Dalam konteks ini yang dimaksud kewajiban pokok adalah melaksanakan ibadah wajib dan mengikuti pengajian. Sikap bebas dan egalitarian (tidak membedakan teman = persamaan derajat) juga diperoleh Gus Mus selama belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir. Di sana, beliau berteman dengan beberapa rekan diantaranya Gus Dur, Kyai Syukri Zarkasyi, Roem Rowi, Quraish Shihab dan Alwi Shihab. Pada saat itu persahabatan di antara mereka tidak terdapat sekat pembeda berdasarkan strata sosial atau ketokohan dalam agama. Sikap egalitarian ini juga didukung dengan tradisi liwetan ala pesantren yang dilakukan secara bergantian.
Jiwa seni Gus Mus telah terlihat sejak beliau berada di pesantren Lirboyo. Menurut Kyai Abdul Aziz, Gus Mus sudah mampu menerapkan ungkapan-ungkapan dengan syair Arab untuk menjelaskan tentang tidak adanya keabadian selain Allah. “Kullu syai-in maa kholallahu baathilun, wa kullu na’iimin lamahlakin zaailun” (segala sesuatu selain Allah akan lenyap, dan segala kenikmatan yang kamu peroleh akan sirna). Pada waktu Gus Mus belajar di Pesantren Krapyak, Jogja, beliau banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku sastra hasil penulis terkemuka nasional.
2. Emha Ainun Nadjib , sebuah nama yang teramat melekat bagi keserbajenisan orang terlebih ketika nama tersebut lebih disederhanakan lagi menjadi “Cak Nun”. Kalau boleh berlebihan,Beliau adalah sosok yang paling dikenal hingga beragam predikat telah disandangkan masyarakat kepadanya, tidak saja sebagai sastrawan, budayawan, cendekiawan, pekerja sosial, kolomnis, seminaris, artis, humoris, bahkan juga kiai (meskipun beliau sangat menolak sebutan ini), dan sederetan sebutan lainnya. Emha adalah sosok multikreatif yang menerobos beragam segmen masyarakat dan berbagi dengan mereka mengenai banyak hal, berbekal penampilannya yang egaliter, komunikatif serta cerdas dalam menggugah perhatian masyarakat menjadikannya mudah diterima oleh beragam level masyarakat.
Apa saja yang telah disandangkan kepada Emha Ainun Najib, tentu saja tidaklah didapatkan begitu saja, Cak Nun telah berproses cukup panjang terlebih dalam hal mengatasi dirinya, dimana beliau bergulat dengan keadaan dan keterbatasan. “Saya sangat gandrung dengan kata keterbatasan”, katanya, “dan tidak begitu berani omong tentang kemerdekaan. Saya sadar saya sangat memiliki keterbatasan, kekurangan dan kelemahan. Juga lingkungan sejarah yang saya jalani ini juga muatan utamanya adalah keserba-terbatasan. Sehingga yang saya lakukan adalah bagaimana bekerja keras untuk mengolah batas-batas. Bagaimana dalam hidup yang serba terbatas ini saya tetap menciptakan kemungkinan untuk bermanfaat”.
Kehidupan Emha Ainun Nadjib dimulai pada tahun 27 Mei 1953 dan merupakan anak keempat dari lima belas bersaudara dari pasangan Muhammad Abdul Lathif dan Chalimah. Cak Nun pernah bertutur mengenai orang tuanya “Ayah saya seorang petani dan kiai yang punya sebuah surau. Tapi ayah saya adalah bapaknya orang banyak, yang mengatasi banyak masalah di desa. Ibu saya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi juga ibunya orang banyak. Semua keluhan dan masalah orang-orang disampaikan kepadanya. Sejak masih digendong-gendong dan baru bisa berjalan, saya sudah ikut ibu berjalan keliling melihat para tetangga, menanyakan mereka masak apa, anaknya sekolah nggak, problem-problemnya. Itu kemudian secara tidak sengaja membentuk sikap sosial saya. Kebetulan nilai-nilai yang rnendasari semuanya adalah agama, karena agama Islam kuncinya satu yakni menolong orang yang tidak mampu di segala bidang agar dibuat mampu menjadi manusia”.
3. Chairil Anwar adalah seorang anak tunggal yang lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, dari pasangan Toeloes dan Saleha yang keduanya berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota di Sumatera Barat, Bapaknya adalah mantan Bupati Indragiri Riau sedangkan ibunya masih punya pertalian keluarga dengan Sultan Sjahrir (Perdana Menteri Indonesia Pertama), Chairil lahir dan dibesarkan dalam kehidupan keluarga yang cukup buruk, dimana ketika beranjak pada usia 19 tahun, kedua orang tuanya bercerai yang kemudian ayahnya menikah lagi dengan wanita lain sedangkan Chairil bersama Ibunya pindah ke Batavia (jakarta).
Chairil Anwar kecil masuk sekolah dasar Holland Indische School (HIS) yang merupakan sekolah dasar untuk orang-orang pribumi di masa penjajahan Belanda, selanjutnya dia meneruskan pendidikan menengah pertamanya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, kemudian sejak usia 18 tahun ia tidak melanjutkan sekolah lagi, meskipun begitu Chairil mampu menguasai bahasa-bahasa asing yang diantaranya Bahasa Inggris, Belanda dan Jerman. di Jakarta Chairil mulai berkenalan dengan dunia Sastra dan banyak menghabiskan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff serta Edgar du Perron, kesemua penulis tersebut kelak sangatlah berpengaruh pada tulisannya sendiri yang bisa diartikan berpengaruh juga pada tatanan Kasusastraan Indonesia.
Tahun 1942 merupakan tahun dimana nama Chairil Anwar mulai dikenal dalam Dunia Sastra, hal ini berkaitan dengan pemuatan tulisannya di Majalah Nisan, tepatnya ketika dia menginjak usia 20 tahun. pada masa itu sebagian besar puisi-puisinya bertemakan kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.
Chairil Anwar dalam kehidupannya pernah menjadi penyiar radio jepang di jakarta dan mulai jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Sri Ayati yang hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. kemudian pada tanggal 6 Agustus 1946 ia memutuskan untuk menikahi Hapsah Wiraredja dan dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, Pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian pada akhir tahun 1948.
4. Kuntowijoyo adalah seorang pemikir komplit dengan ragam identitas dan julukan, seorang Guru Besar, Sejarahwan, Budayawan, Sastrawan, Penulis-Kolumnis, Aktivis serta Intelektual Muslim. beliau lahir sebagai anak kedua dari delapan bersaudara di Desa Ngawonggo, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten pada tanggal 18 Sepetember 1943 dari Pasangan Martoyo yang seorang pendalang dengan Ibu Warastri.
Kuntowijoyo memulai pendidikan Sekolah Dasarnya di Sekolah Rakyat Negeri Klaten hingga lulus pada tahun 1956. Setamat dari SD Klaten, ia melanjutkan ke SMP Negeri Klaten, lulus pada tahun 1959. Lalu melanjutkan studi ke SMA Negeri Solo, lulus pada tahun 1962. Kemudian ia melanjutkan studinya di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta, lulus pada tahun 1969. Setelah lulus dari UGM, Kuntowijoyo melanjutkan kuliah di University of Connecticut dan meraih master (M.A., American Studies, 1974) dan gelar doktor (Ph.D., Ilmu Sejarah, 1990) di Universitas Columbia, dengan disertasi yang berjudul Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850-1940.
Kuntowijoyo dikenal sebagai Intelektual Muslim yang rendah hati, Jujur dan berintegritas tinggi, dimana dalam keadaannya yang sakit, beliau tetap sabar dalam melayani bimbingan mahasiswa juga sempat menulis beberapa buku yang baru terbit setelah kepergiannya menghadap Illahi. Dalam perjalanan hidupnya beliau menikahi perempuan bernama Susiloningsih yang dikenalnya sejak 1967 yang kala itu secara kebetulan bersua di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, tempat Kunto sedang dirawat karena penyakit batu ginjal. Istrinya tersebut juga menjadi dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Jogja dan juga telah meyelesaikan studi di Psychology Department, Hunter College of The City University of New York pada tahun 1980. Dari pernikahannya tersebut Kuntowijoyo dikaruniai dua orang anak yakni Punang Amari Puja dan Alun Paradipta. Dalam masa hidupnya, Kuntowijoyo mengalami serangan virus meningo enchepalitis (infeksi yang menyerang bagian otak). Dan Kuntowijoyo meninggal pada hari Selasa, 22 Februari 2005.
Kuntowijoyo merupakan pengajar di jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (sebelumnya Fakultas Sastra) Universitas Gadjah Mada. sebagai seorang intelektual dan akademisi beliau telah menghasilkan telaah-telaah kritis terhadap beragam masalah sosial, Budaya dan Sejarah. semua itu dapat terlihat pada buku-bukunya antara lain; Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam : Interpretasi untuk Aksi (1991), Demokrasi dan Budaya Birokrasi(1994), Identitas Politik Umat Islam(1997), Pengantar Ilmu Sejarah (2001), Muslim Tanpa Masjid (2001), Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas(2002), Radikalisasi Petani : Esai-Esai Sejarah Kuntowijoyo(2000), Raja, Priyayi, dan Kawula : Surakarta 1900-1915 (2004), dan Penjelasan Sejarah (2008).
Kuntowijoyo merupakan Tokoh yang begitu gemilang dengan banyaknya Identitas yang disandangnya, karena memang tidak banyak Sastrawan Indonesia yang bisa seperti itu, Kualitas dan produktivitas Kuntowijoyo menulis karya sastra sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah atau pemikiran sosial berbasis Islam. Baik dalam sastra (khususnya prosa) maupun dalam dunia intelektual/akademisi, Kuntowijoyo menduduki posisi penting dan terhormat. Dua aktivitas itu dijalaninya dengan khusyuk, dengan perhatian dan penekanan yang seimbang.
Karya sastra Kuntowijoyo antara lain terkumpul dalam buku Suluk Awang Uwung (kumpulan sajak, 1975), Makrifat Daun, Daun Makrifat (kumpulan sajak, 1995), Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (kumpulan cerpen, 1992), Hampir Sebuah Subversi (kumpulan cerpen, 1999), Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (novel, 1996), Pasar (novel, mendapat hadiah Hari Buku 1972), Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), Mantra Pejinak Ular (2000), dan Wasripin dan Satinah (2003), Rumput-Rumput Danau Bento (drama, 1968), Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas (drama, 1972), dan Topeng Kayu (1973). Karyanya tersebar pula dalam berbagai antologi.
5. WAHYU NH AL_ALY (Wahyu Nur Hidayat) merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Kelahiran Kebumen (28 Juni 1984) ini merupakan intelektual muda yang memosisikan dirinya sebagai penjembatan antara kalangan yang dianggap fundamentalis dengan kalangan yang mengaku liberal.
Dalam hal pendidikan, ia sering menyampaikan apabila belajar menurutnya tidak hanya melulu pada lembaga formal. Meskipun demikian, tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu) melalui lembaga formal, menurutnya tetap sebagai fardhu ‘ain (kebutuhan/ kewajiban personal) secara sosial. Ia juga menekankan apabila ilmu tidak bisa diwariskan/ditransfer oleh apapun nasab dan kedudukan seeorang (baik sosial maupun struktural) melainkan melalui proses pembelajaran dan belajar.
Selain menyalurkan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan di pelbagai media massa, menulis buku-buku (novel, esei, ilmiah), dan menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, juga melalui seminar-seminar. Bersama LAWANG NGAJENG juga mengadakan berbagai kegiatan seperti pemberian beasiswa, menggelar seni dwi bulanan MAHABBAH BUDAYA di Jogja, serta kajian lainnya yang diselenggarakan di Jakarta, Kebumen, Cirebon,Bekasi, Ciputat, dan lainnya.
6. Prof. Dr. Koentjaraningrat (lahir di Sleman, 15 Juni 1923 – meninggal di Jakarta, 23 Maret 1999 pada umur 75 tahun) adalah antropolog Indonesia.Koentjaraningrat tertarik pada bidang antropologi sejak menjadi asisten Prof. G.J. Held, guru besar antropologi di Universitas Indonesia, yang mengadakan penelitian lapangan diSumbawa. Sarjana Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia 1952, ini meraih gelar M.A. bidang Antropologi dari Yale University, AS, 1956 dan doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958.
6. Prof. Dr. Koentjaraningrat (lahir di Sleman, 15 Juni 1923 – meninggal di Jakarta, 23 Maret 1999 pada umur 75 tahun) adalah antropolog Indonesia.Koentjaraningrat tertarik pada bidang antropologi sejak menjadi asisten Prof. G.J. Held, guru besar antropologi di Universitas Indonesia, yang mengadakan penelitian lapangan diSumbawa. Sarjana Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia 1952, ini meraih gelar M.A. bidang Antropologi dari Yale University, AS, 1956 dan doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958.
Pak Koen, demikian ia disapa, merintis berdirinya sebelas jurusan antropologi di berbagai universitas di Indonesia. Ilmuwan yang mahir berbahasa Belanda dan Inggris ini juga tekun menulis. Beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia. Ia banyak menulis mengenai perkembangan antropologi Indonesia. Sejak tahun 1957 hingga 1999, ia telah menghasilkan puluhan buku serta ratusan artikel.
Melalui tulisannya, ia mengajarkan pentingnya mengenal masyarakat dan budaya bangsa sendiri. Buah-buah pikirannya yang terangkum dalam buku kerap dijadikan acuan penelitian mengenai kondisi sosial, budaya, dan masyarakat Indonesia, baik oleh para ilmuwan Indonesia maupun asing.
Salah satu bukunya yang menjadi pusat pembelajaran para mahasiswanya adalah Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1963. Dalam buku itu, diceritakan kegiatan Prof Dr Koentjaraningrat dalam menimba ilmu. Juga di dalamnya, dia menjadi tokoh pusat dalam perkembangan antropologi.
Berbagai penghargaan telah dianugerahkan padanya atas pengabdiannya dalam pengembangan ilmu antropologi. Di antaranya, penghargaan ilmiah gelar doctor honoris causa dari Universitas Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian Cultural Price pada tahun 1995. Pak Koen juga mendapat penghargaan Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1981).
7. Drs. R. Soekmono (lahir di Ketanggungan, kabupaten Brebes, 14 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 9 Juli 1997 pada umur 74 tahun)[1] adalah salah satu arkeolog dari Indonesiadan pernah memimpin proyek pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1971-1983.[2]
Bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soekmono termasuk dalam arkeolog pertama bangsa Indonesia yang berhasil menyelesaikan gelar sarjananya pada tahun 1953 dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pak Soek, biasa dipanggil oleh rekan, bawahan, dan mahasiswanya. Bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soejono, Boechari, Uka Tjandrasasmita, Basoeki dan arkeolog Belanda pada tahun 1954 melakukan ekspedisi ke Sumatera. Dari ekspedisinya itu, ia berpendapat bahwa pada masa Sriwijaya garis pantai Sumatera bagian timur terletak di daerah pedalaman. Di Jambi terdapat sebuah teluk, sedangkan kota Palembang terletak di ujung sebuah semenanjung. Pendapatnya ini terus dipertahankan hingga akhir hayatnya.
Soekmono merupakan orang Indonesia pertama yang lulus sebagai doktorandus dalam bidang studi arkeologi. Setelah lulus tahun 1953, pada tahun itu juga ia diangkat sebagai Kepala Dinas Purbakala Republik Indonesia, suatu kedudukan yang sebelum itu dijabat oleh orang-orang Belanda. Jabatan ini terus dipangkunya hingga tahun 1973. Pada tahun 1970 ia dipercaya pemerintah untuk memimpin Proyek Pemugaran Candi Borobudur, sebuah proyek besar yang didanai oleh pemerintah RI dan UNESCO.
Ditengah-tengah kesibukannya memimpin suatu proyek besar, pada tahun 1974 ia sempat menyelesaikan disertasinya yang berjudul "Candi, Fungsi dan Pengertiannya" di Universitas Indonesia. Pada bidang studi inilah keahlian dan pengalamannya dapat diuji, terutama pengetahuannya mengenai candi-candi di Indonesia. Pengalamannya pada Proyek Pemugaran Candi Borobudur menjadikannya seorang ahli mengenai bangunan candi yang sedang ditanganinya. Di dunia internasional pengetahuannya mengenai konservasi bangunan monumental banyak dipakai. Beberapa jabatan yang berkaitan dengan masalah-masalah konservasi banyak disandangnya.
Kesibukannya sebagai “praktisi arkeologi” tidak menjadikannya lupa akan dunia akademis. Pengetahuannya yang luas mengenai Sejarah Kebudayaan Indonesia, diamalkannya di ruang kuliah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, dan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar sebagai Dosen Luar Biasa (1953-1978). Pada tahun 1978 ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kemudian pada tahun 1986-1987 sebagai Guru Besar tamu di Rijksuniversiteit te Leiden, Belanda.
Langganan:
Postingan (Atom)
