
1. KH. A. Mustofa Bisri atau akrab di panggil Gus Mus adalah seorang Kiai, Penyair, Pelukis, Budayawan, Cendekiawan Muslim atau…dan masih banyak lagi predikat yang disandangkan ke padanya. Sosok multikreatif yang cenderung bersahaja namun terus bergerak tak kenal lelah untuk melakukan berbagai kegiatan. Sebagai seorang ulama, Gus Mus telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan social dan politik para ulama, jauh dari sifat ambisius dan bahkan dikatakan beliau adalah kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. sebagai pelaku seni, bersastra merupakan aktivitas yang telah mendarah daging bagi beliau. “Bersastra itu kan kegiatan manusia paling tinggi, melibatkan rasio dan perasaan !” katanya.
KH. A. Mustofa Bisri lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Beliau lahir dari pasangan KH. Bisri bin H. Zaenal Mustofa dan Hj. Ma’rufah binti KH. Kholil Harun. Gus Mus adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ketujuh saudara Gus Mus yang lain adalah: KH. Kholil Bisri, KH. Adib Bisri, Hj. Faridah, Hj. Najihah, Nihayah, Labib dan Hj. Atikah. Bakat menulis diperoleh dari ayahnya. Ayah Gus Mus, KH. Bisri Mustofa adalah salah satu ulama terkenal pada waktu itu yang juga gemar menulis. Salah satu hasil karyanya yang hingga sekarang masih digemari oleh para pembaca ialah Kitab Tafsir Al Ibriz. Bakat menulis KH. Bisri Mustofa juga tampak dalam penerjemahan kitab-kitab klasik yang umumnya sulit dipahami oleh para santri, semisal: Fath al-Mu’in, Alfiyah Ibnu Malik, Al-Iktsir dan Al-Baiquniyah. Tetapi oleh beliau diterjemahkan ke dalam bahasa yang lugas dengan bahasa indah dan mudah dipahami.
KH. Bisri Mustofa juga sangat berpengaruh pada watak Gus Mus yang kreatif, bebas dan gemar membuat karya seni. Watak bebas namun bertanggung jawab memang diterapkan pada semua keluarga dan keluarga KH. Bisri Mustofa. Sebuah prinsip yang diajarkan Kyai Bisri Mustofa adalah semua boleh bebas asal tidak meninggalkan kewajiban pokok. Dalam konteks ini yang dimaksud kewajiban pokok adalah melaksanakan ibadah wajib dan mengikuti pengajian. Sikap bebas dan egalitarian (tidak membedakan teman = persamaan derajat) juga diperoleh Gus Mus selama belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir. Di sana, beliau berteman dengan beberapa rekan diantaranya Gus Dur, Kyai Syukri Zarkasyi, Roem Rowi, Quraish Shihab dan Alwi Shihab. Pada saat itu persahabatan di antara mereka tidak terdapat sekat pembeda berdasarkan strata sosial atau ketokohan dalam agama. Sikap egalitarian ini juga didukung dengan tradisi liwetan ala pesantren yang dilakukan secara bergantian.
Jiwa seni Gus Mus telah terlihat sejak beliau berada di pesantren Lirboyo. Menurut Kyai Abdul Aziz, Gus Mus sudah mampu menerapkan ungkapan-ungkapan dengan syair Arab untuk menjelaskan tentang tidak adanya keabadian selain Allah. “Kullu syai-in maa kholallahu baathilun, wa kullu na’iimin lamahlakin zaailun” (segala sesuatu selain Allah akan lenyap, dan segala kenikmatan yang kamu peroleh akan sirna). Pada waktu Gus Mus belajar di Pesantren Krapyak, Jogja, beliau banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku sastra hasil penulis terkemuka nasional.
2. Emha Ainun Nadjib , sebuah nama yang teramat melekat bagi keserbajenisan orang terlebih ketika nama tersebut lebih disederhanakan lagi menjadi “Cak Nun”. Kalau boleh berlebihan,Beliau adalah sosok yang paling dikenal hingga beragam predikat telah disandangkan masyarakat kepadanya, tidak saja sebagai sastrawan, budayawan, cendekiawan, pekerja sosial, kolomnis, seminaris, artis, humoris, bahkan juga kiai (meskipun beliau sangat menolak sebutan ini), dan sederetan sebutan lainnya. Emha adalah sosok multikreatif yang menerobos beragam segmen masyarakat dan berbagi dengan mereka mengenai banyak hal, berbekal penampilannya yang egaliter, komunikatif serta cerdas dalam menggugah perhatian masyarakat menjadikannya mudah diterima oleh beragam level masyarakat.
Apa saja yang telah disandangkan kepada Emha Ainun Najib, tentu saja tidaklah didapatkan begitu saja, Cak Nun telah berproses cukup panjang terlebih dalam hal mengatasi dirinya, dimana beliau bergulat dengan keadaan dan keterbatasan. “Saya sangat gandrung dengan kata keterbatasan”, katanya, “dan tidak begitu berani omong tentang kemerdekaan. Saya sadar saya sangat memiliki keterbatasan, kekurangan dan kelemahan. Juga lingkungan sejarah yang saya jalani ini juga muatan utamanya adalah keserba-terbatasan. Sehingga yang saya lakukan adalah bagaimana bekerja keras untuk mengolah batas-batas. Bagaimana dalam hidup yang serba terbatas ini saya tetap menciptakan kemungkinan untuk bermanfaat”.
Kehidupan Emha Ainun Nadjib dimulai pada tahun 27 Mei 1953 dan merupakan anak keempat dari lima belas bersaudara dari pasangan Muhammad Abdul Lathif dan Chalimah. Cak Nun pernah bertutur mengenai orang tuanya “Ayah saya seorang petani dan kiai yang punya sebuah surau. Tapi ayah saya adalah bapaknya orang banyak, yang mengatasi banyak masalah di desa. Ibu saya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi juga ibunya orang banyak. Semua keluhan dan masalah orang-orang disampaikan kepadanya. Sejak masih digendong-gendong dan baru bisa berjalan, saya sudah ikut ibu berjalan keliling melihat para tetangga, menanyakan mereka masak apa, anaknya sekolah nggak, problem-problemnya. Itu kemudian secara tidak sengaja membentuk sikap sosial saya. Kebetulan nilai-nilai yang rnendasari semuanya adalah agama, karena agama Islam kuncinya satu yakni menolong orang yang tidak mampu di segala bidang agar dibuat mampu menjadi manusia”.
3. Chairil Anwar adalah seorang anak tunggal yang lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, dari pasangan Toeloes dan Saleha yang keduanya berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota di Sumatera Barat, Bapaknya adalah mantan Bupati Indragiri Riau sedangkan ibunya masih punya pertalian keluarga dengan Sultan Sjahrir (Perdana Menteri Indonesia Pertama), Chairil lahir dan dibesarkan dalam kehidupan keluarga yang cukup buruk, dimana ketika beranjak pada usia 19 tahun, kedua orang tuanya bercerai yang kemudian ayahnya menikah lagi dengan wanita lain sedangkan Chairil bersama Ibunya pindah ke Batavia (jakarta).
Chairil Anwar kecil masuk sekolah dasar Holland Indische School (HIS) yang merupakan sekolah dasar untuk orang-orang pribumi di masa penjajahan Belanda, selanjutnya dia meneruskan pendidikan menengah pertamanya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, kemudian sejak usia 18 tahun ia tidak melanjutkan sekolah lagi, meskipun begitu Chairil mampu menguasai bahasa-bahasa asing yang diantaranya Bahasa Inggris, Belanda dan Jerman. di Jakarta Chairil mulai berkenalan dengan dunia Sastra dan banyak menghabiskan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff serta Edgar du Perron, kesemua penulis tersebut kelak sangatlah berpengaruh pada tulisannya sendiri yang bisa diartikan berpengaruh juga pada tatanan Kasusastraan Indonesia.
Tahun 1942 merupakan tahun dimana nama Chairil Anwar mulai dikenal dalam Dunia Sastra, hal ini berkaitan dengan pemuatan tulisannya di Majalah Nisan, tepatnya ketika dia menginjak usia 20 tahun. pada masa itu sebagian besar puisi-puisinya bertemakan kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.
Chairil Anwar dalam kehidupannya pernah menjadi penyiar radio jepang di jakarta dan mulai jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Sri Ayati yang hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. kemudian pada tanggal 6 Agustus 1946 ia memutuskan untuk menikahi Hapsah Wiraredja dan dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, Pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian pada akhir tahun 1948.
4. Kuntowijoyo adalah seorang pemikir komplit dengan ragam identitas dan julukan, seorang Guru Besar, Sejarahwan, Budayawan, Sastrawan, Penulis-Kolumnis, Aktivis serta Intelektual Muslim. beliau lahir sebagai anak kedua dari delapan bersaudara di Desa Ngawonggo, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten pada tanggal 18 Sepetember 1943 dari Pasangan Martoyo yang seorang pendalang dengan Ibu Warastri.
Kuntowijoyo memulai pendidikan Sekolah Dasarnya di Sekolah Rakyat Negeri Klaten hingga lulus pada tahun 1956. Setamat dari SD Klaten, ia melanjutkan ke SMP Negeri Klaten, lulus pada tahun 1959. Lalu melanjutkan studi ke SMA Negeri Solo, lulus pada tahun 1962. Kemudian ia melanjutkan studinya di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta, lulus pada tahun 1969. Setelah lulus dari UGM, Kuntowijoyo melanjutkan kuliah di University of Connecticut dan meraih master (M.A., American Studies, 1974) dan gelar doktor (Ph.D., Ilmu Sejarah, 1990) di Universitas Columbia, dengan disertasi yang berjudul Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850-1940.
Kuntowijoyo dikenal sebagai Intelektual Muslim yang rendah hati, Jujur dan berintegritas tinggi, dimana dalam keadaannya yang sakit, beliau tetap sabar dalam melayani bimbingan mahasiswa juga sempat menulis beberapa buku yang baru terbit setelah kepergiannya menghadap Illahi. Dalam perjalanan hidupnya beliau menikahi perempuan bernama Susiloningsih yang dikenalnya sejak 1967 yang kala itu secara kebetulan bersua di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, tempat Kunto sedang dirawat karena penyakit batu ginjal. Istrinya tersebut juga menjadi dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Jogja dan juga telah meyelesaikan studi di Psychology Department, Hunter College of The City University of New York pada tahun 1980. Dari pernikahannya tersebut Kuntowijoyo dikaruniai dua orang anak yakni Punang Amari Puja dan Alun Paradipta. Dalam masa hidupnya, Kuntowijoyo mengalami serangan virus meningo enchepalitis (infeksi yang menyerang bagian otak). Dan Kuntowijoyo meninggal pada hari Selasa, 22 Februari 2005.
Kuntowijoyo merupakan pengajar di jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (sebelumnya Fakultas Sastra) Universitas Gadjah Mada. sebagai seorang intelektual dan akademisi beliau telah menghasilkan telaah-telaah kritis terhadap beragam masalah sosial, Budaya dan Sejarah. semua itu dapat terlihat pada buku-bukunya antara lain; Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam : Interpretasi untuk Aksi (1991), Demokrasi dan Budaya Birokrasi(1994), Identitas Politik Umat Islam(1997), Pengantar Ilmu Sejarah (2001), Muslim Tanpa Masjid (2001), Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas(2002), Radikalisasi Petani : Esai-Esai Sejarah Kuntowijoyo(2000), Raja, Priyayi, dan Kawula : Surakarta 1900-1915 (2004), dan Penjelasan Sejarah (2008).
Kuntowijoyo merupakan Tokoh yang begitu gemilang dengan banyaknya Identitas yang disandangnya, karena memang tidak banyak Sastrawan Indonesia yang bisa seperti itu, Kualitas dan produktivitas Kuntowijoyo menulis karya sastra sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah atau pemikiran sosial berbasis Islam. Baik dalam sastra (khususnya prosa) maupun dalam dunia intelektual/akademisi, Kuntowijoyo menduduki posisi penting dan terhormat. Dua aktivitas itu dijalaninya dengan khusyuk, dengan perhatian dan penekanan yang seimbang.
Karya sastra Kuntowijoyo antara lain terkumpul dalam buku Suluk Awang Uwung (kumpulan sajak, 1975), Makrifat Daun, Daun Makrifat (kumpulan sajak, 1995), Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (kumpulan cerpen, 1992), Hampir Sebuah Subversi (kumpulan cerpen, 1999), Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (novel, 1996), Pasar (novel, mendapat hadiah Hari Buku 1972), Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), Mantra Pejinak Ular (2000), dan Wasripin dan Satinah (2003), Rumput-Rumput Danau Bento (drama, 1968), Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas (drama, 1972), dan Topeng Kayu (1973). Karyanya tersebar pula dalam berbagai antologi.
5. WAHYU NH AL_ALY (Wahyu Nur Hidayat) merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Kelahiran Kebumen (28 Juni 1984) ini merupakan intelektual muda yang memosisikan dirinya sebagai penjembatan antara kalangan yang dianggap fundamentalis dengan kalangan yang mengaku liberal.
Dalam hal pendidikan, ia sering menyampaikan apabila belajar menurutnya tidak hanya melulu pada lembaga formal. Meskipun demikian, tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu) melalui lembaga formal, menurutnya tetap sebagai fardhu ‘ain (kebutuhan/ kewajiban personal) secara sosial. Ia juga menekankan apabila ilmu tidak bisa diwariskan/ditransfer oleh apapun nasab dan kedudukan seeorang (baik sosial maupun struktural) melainkan melalui proses pembelajaran dan belajar.
Selain menyalurkan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan di pelbagai media massa, menulis buku-buku (novel, esei, ilmiah), dan menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, juga melalui seminar-seminar. Bersama LAWANG NGAJENG juga mengadakan berbagai kegiatan seperti pemberian beasiswa, menggelar seni dwi bulanan MAHABBAH BUDAYA di Jogja, serta kajian lainnya yang diselenggarakan di Jakarta, Kebumen, Cirebon,Bekasi, Ciputat, dan lainnya.
6. Prof. Dr. Koentjaraningrat (lahir di Sleman, 15 Juni 1923 – meninggal di Jakarta, 23 Maret 1999 pada umur 75 tahun) adalah antropolog Indonesia.Koentjaraningrat tertarik pada bidang antropologi sejak menjadi asisten Prof. G.J. Held, guru besar antropologi di Universitas Indonesia, yang mengadakan penelitian lapangan diSumbawa. Sarjana Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia 1952, ini meraih gelar M.A. bidang Antropologi dari Yale University, AS, 1956 dan doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958.
6. Prof. Dr. Koentjaraningrat (lahir di Sleman, 15 Juni 1923 – meninggal di Jakarta, 23 Maret 1999 pada umur 75 tahun) adalah antropolog Indonesia.Koentjaraningrat tertarik pada bidang antropologi sejak menjadi asisten Prof. G.J. Held, guru besar antropologi di Universitas Indonesia, yang mengadakan penelitian lapangan diSumbawa. Sarjana Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia 1952, ini meraih gelar M.A. bidang Antropologi dari Yale University, AS, 1956 dan doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958.
Pak Koen, demikian ia disapa, merintis berdirinya sebelas jurusan antropologi di berbagai universitas di Indonesia. Ilmuwan yang mahir berbahasa Belanda dan Inggris ini juga tekun menulis. Beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia. Ia banyak menulis mengenai perkembangan antropologi Indonesia. Sejak tahun 1957 hingga 1999, ia telah menghasilkan puluhan buku serta ratusan artikel.
Melalui tulisannya, ia mengajarkan pentingnya mengenal masyarakat dan budaya bangsa sendiri. Buah-buah pikirannya yang terangkum dalam buku kerap dijadikan acuan penelitian mengenai kondisi sosial, budaya, dan masyarakat Indonesia, baik oleh para ilmuwan Indonesia maupun asing.
Salah satu bukunya yang menjadi pusat pembelajaran para mahasiswanya adalah Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1963. Dalam buku itu, diceritakan kegiatan Prof Dr Koentjaraningrat dalam menimba ilmu. Juga di dalamnya, dia menjadi tokoh pusat dalam perkembangan antropologi.
Berbagai penghargaan telah dianugerahkan padanya atas pengabdiannya dalam pengembangan ilmu antropologi. Di antaranya, penghargaan ilmiah gelar doctor honoris causa dari Universitas Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian Cultural Price pada tahun 1995. Pak Koen juga mendapat penghargaan Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1981).
7. Drs. R. Soekmono (lahir di Ketanggungan, kabupaten Brebes, 14 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 9 Juli 1997 pada umur 74 tahun)[1] adalah salah satu arkeolog dari Indonesiadan pernah memimpin proyek pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1971-1983.[2]
Bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soekmono termasuk dalam arkeolog pertama bangsa Indonesia yang berhasil menyelesaikan gelar sarjananya pada tahun 1953 dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pak Soek, biasa dipanggil oleh rekan, bawahan, dan mahasiswanya. Bersama-sama dengan Satyawati Suleiman, Soejono, Boechari, Uka Tjandrasasmita, Basoeki dan arkeolog Belanda pada tahun 1954 melakukan ekspedisi ke Sumatera. Dari ekspedisinya itu, ia berpendapat bahwa pada masa Sriwijaya garis pantai Sumatera bagian timur terletak di daerah pedalaman. Di Jambi terdapat sebuah teluk, sedangkan kota Palembang terletak di ujung sebuah semenanjung. Pendapatnya ini terus dipertahankan hingga akhir hayatnya.
Soekmono merupakan orang Indonesia pertama yang lulus sebagai doktorandus dalam bidang studi arkeologi. Setelah lulus tahun 1953, pada tahun itu juga ia diangkat sebagai Kepala Dinas Purbakala Republik Indonesia, suatu kedudukan yang sebelum itu dijabat oleh orang-orang Belanda. Jabatan ini terus dipangkunya hingga tahun 1973. Pada tahun 1970 ia dipercaya pemerintah untuk memimpin Proyek Pemugaran Candi Borobudur, sebuah proyek besar yang didanai oleh pemerintah RI dan UNESCO.
Ditengah-tengah kesibukannya memimpin suatu proyek besar, pada tahun 1974 ia sempat menyelesaikan disertasinya yang berjudul "Candi, Fungsi dan Pengertiannya" di Universitas Indonesia. Pada bidang studi inilah keahlian dan pengalamannya dapat diuji, terutama pengetahuannya mengenai candi-candi di Indonesia. Pengalamannya pada Proyek Pemugaran Candi Borobudur menjadikannya seorang ahli mengenai bangunan candi yang sedang ditanganinya. Di dunia internasional pengetahuannya mengenai konservasi bangunan monumental banyak dipakai. Beberapa jabatan yang berkaitan dengan masalah-masalah konservasi banyak disandangnya.
Kesibukannya sebagai “praktisi arkeologi” tidak menjadikannya lupa akan dunia akademis. Pengetahuannya yang luas mengenai Sejarah Kebudayaan Indonesia, diamalkannya di ruang kuliah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, dan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Batusangkar sebagai Dosen Luar Biasa (1953-1978). Pada tahun 1978 ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kemudian pada tahun 1986-1987 sebagai Guru Besar tamu di Rijksuniversiteit te Leiden, Belanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar